YOU ARE MY FIRST (FANFICT) Part 3

Author : Naka Aya

Cast :

Kris as Him Self

You as Sae Ri

Luhan as Him Self

Tao as Him Self

Nana

====================================================

Mimpi, mimpi. Ini hanya mimpi kan? Aku tahu kalau ini hanya mimpi dan aku akan segera mengakhirinya.”

“Sampai kapan kau akan tidur?” Suara itu terdengar tidak begitu asing bagi Sae Ri, walaupun matanya yang kini tertutup tidak bisa memastikannya, tapi Sae Ri yakin itu suara sang ice prince, Kris.

“Ah rupanya aku masih bermimpi. Aku harus bangun sekarang juga”

“Kau tau, kakiku sangat pegal sekarang.” Kris.

apa-apaan dia, bahkan dalam mimpi pun dia sangat menyebalkan”

“Kau benar-benar tidak akan bangun?” Kris menggerakkan kakinya kasar, mengguncang badan Sae Ri.

Merasakan hal yang begitu nyata, Sae Ri tersadar bahwa dia tidak sedang bermimpi. Perlahan, dengan ragu (dan masih berharap itu mimpi) Sae Ri membuka kelopak matanya dan mendapati wajah Kris yang tampan tepat diarah pandangannya. Pupil mata Sae Ri membesar.

“Kau membuat kakiku kram” Kris lagi-lagi menatap tajam tepat dimata Sae Ri.

Sontak Sae Ri bangun dan mengambil posisi duduk dengan kaku.

“Apa kau tidak tidur semalam?” Tanya Kris dingin.

“A a apa?”

“Kau benar-benar pingsan ya?”

“Ha?” Kali ini Sae Ri memberanikan diri menatap Kris.

Kris diam tanpa melepaskan pandangan dari Sae Ri. Saat itu Sae Ri mulai mengingat kejadian sebelumnya, dimana bagian yang paling diingatnya adalah kejadian-kejadian yang membuatnya bingung sampai otaknya seperti protres meminta istirahat sejenak dan Sae Ri tidak mengingat apa-apa lagi (karena setelahnya dia pingsan).

“Jadi, aku pingsan?” Sae Ri mencari jawaban dari Kris.

“Apa kau tidak pernah dipeluk sebelumnya?”

“eh?”

“Kau pingsan setelah aku memelukmu.”

“m m m MWORAGO?” Sae Ri berdiri karena kesal kali ini.

“ah berisik” gumam Kris yang kemudian berdiri juga. Dia meregangkan otot-ototnya.

Kris melihat jam tangannya, kemudian berdecak. “Lain kali nyalakan alarm sebelum kau pingsan” Kris-pun berjalan meninggalkan Sae Ri yang masih kesal dan juga kebingungan.

“Apa maksudnya? Memangnya siapa yang membuat aku pingsan seperti ini? Siapa namanya tadi? Kris? Namja yang aneh. Apanya yang Ice Prince? Mereka semua bodoh!! Babo! Kris Babo!!” Sae Ri memaki dengan suara yang keras.

Kini disekitar Sae Ri hanya ada kesunyian. Dia bolos jam pelajaran untuk pertama kalinya. Sae Ri melihat jam di handphone-nya. Matanya membelalak.

“Mwo? Jam empat sore?” Sae Ri kehilangan tenaganya. Sekolah sudah bubar satu jam yang lalu dan dia menghabiskan waktu dengan percuma disini. Sae Ri menatap kebawah. Lapangan pun sepi dan setengah jam lagi gerbang sekolah ditutup. Dia bergegas menuju kelasnya, mengambil tasnya dan berlari keluar.

Sae Ri berjalan lunglai meninggalkan gerbang sekolah. Manatap langit yang masih biru walau mulai pudar. Dia tak habis pikir dengan kejadian yang dialaminya dalam jangka satu minggu saja semenjak dirinya masuk Dream Art School.

“Menyebalkaaaaaaannn” Sae Ri berteriak ditengah kesunyian.

Suara raungan motor menghentikan teriakan Sae Ri. Muka Sae Ri memerah. Si pengendara motor membuka helmnya, Kris.

“Kau sangat berisik” ujar Kris seraya melemparkan helm berwarna biru tua kepada Sae Ri, spontan Sae Ri menangkapnya.

“apa ini?” Tanya Sae Ri bingung (lagi).

“Helm. Kau pikir apa?” Kris ketus.

“Cepat pakai dan naiklah” lanjutnya.

Motor Kris melaju kencang meninggalkan area sekolah. Sae Ri berpegangan pada jaket yang dikenakan Kris. Dia tidak mengerti kenapa dia mengikuti Kris begitu saja. Karena Kris mengatakan akan mengantarnya pulang? Tentu saja tidak, Sae Ri bisa menolak ajakan Kris. Tapi dia malah mengikuti kata-kata Kris. Lantas kenapa? Terlalu membingungkan untuk dicerna.

Dibalik helmnya, Kris tersenyum. Dan sengaja menaikkan kecepatan laju motornya. Membuat Sae Ri kini memeluk erat punggung Kris. “Napeun nom” maki Sae Ri.

Gambar

Ini terlalu romantis dan kebetulan bukan?

Sang ice prince yang terkenal dengan sikap dinginnya pada perempuan, kini malah mendekati Sae Ri yang bukan siapa-siapa dan hanya orang biasa. Membuat semua siswa perempuan di sekolah iri melihatnya, dan tak sedikit dari mereka malah membenci Sae Ri yang polos. Saat Sae Ri mencoba menjauh, Kris selalu muncul disaat yang sama, membuat Sae Ri ingin berlari sejauh mungkin. Tekanan demi tekanan dia dapati. Sampai-sampai berat badannya turun beberapa kilo dalam waktu satu bulan.

Hari ini Sae Ri bertekad untuk menanyakan alasan Kris perhatian kepadanya. Jam istirahat. Sae Ri menuju atap gedung sekolah.

“Kris” untuk pertama kalinya Sae Ri memanggil nama Kris.

Kris membuka sebelah matanya, dan menutupnya kembali. “Hm?”

“Sebenarnya jenis hubungan kita ini apa? Kau bertindak terlalu seenaknya padaku. Kau tau sudah satu bulan aku disekolah ini, tapi tidak ada satu teman pun yang aku punya. Rasanya aku ingin mati saja jika aku tidak ingat ayahku.” Nada suara Sae Ri terdengar sedih.

Kali ini Kris membuka kedua matanya dan berubah posisi menjadi duduk. Sae Ri berdiri dihadapannya dengan mata berkaca.

“Mereka bilang aku bahagia karena orang sepertimu menyukai yeoja seperti aku. Ta-tapi, aku tidak merasakan hal itu. Jujur. AKU TERSIKSA BERSAMAMU!” dengan jelas Sae Ri mengakhiri kalimatnya.

Kris masih dengan raut yang dingin, menatap Sae Ri “Sudah selesai?”

Kali ini Sae Ri balas menatap Kris dengan penuh amarah “Kau hanya mampu mengatakan hal itu?”

“Kau ingin mendengar kata apa dari ku? ‘maafkan aku’ seperti itu? Hhhh, itu terlalu membosankan.”

“m-m-mworago?”

“Kau. Tidak seperti dirimu. Membosankan. Aku pergi.” Kris meninggalkan Sae Ri. Tapi Sae Ri berteriak kencang “KAU TAU APA TENTANG DIRIKU?!”

Kris tidak memperdulikannya dan tetap pergi meninggalkan Sae Ri yang kini mulai meneteskan air mata. “Aku Tau segalanya tentang kau” gumam Kris pada dirinya.

Sae Ri menangis. Dan ternyata diatap itu, dua orang memperhatikan kejadian antara Kris dan Sae Ri tadi. Keduanya terdiam saling menatap. Rupanya itu Tao dan Nana.

“Kris jahat.” Ujar Nana, kemudian mengalihkan pandangannya pada Sae Ri yang masih menangis.

“Yeoja itu yang terlalu naïf. Dia bodoh.” Tao berkomentar.

“aigooo” Taaakkkkkk!! Nana memukul kepala Tao keras namun tak mengeluarkan suara, Tao hampir berteriak jika Nana tidak cepat menutup mulut Tao dengan kedua tangannya.

“Diamlah. Dasar Panda Boy. Kita harus melakukan sesuatu untuk Sae Ri.” Nana beranjak, tapi Tao menahannya, menarik Nana ketempat semula.

“Jangan ikut campur urusan Kris. Biar mereka yang menyelesaikannya.”

“Aku gemas melihat Kris! Kenapa dia tidak langsung saja mengungkapkan kalau Sae Ri adalah cinta pertamanya!” Nana sedikit berteriak.

Sayangnya (atau beruntung?) Sae Ri sudah berdiri dibelakang Nana dan Tao, dan tentu saja Sae Ri mendengar apa yang diucapkan oleh Nana barusan.

“m-m-mwo?” ungkap Sae Ri.

Nana dan Tao berbalik bersamaan, terkejut dengan keberadaan Sae Ri dibelakang mereka.

“S-s-sae Ri ~ah…”

To be continued to part 4

Happy reading?? Please leave some coment. Kamsa~ =D

YOU ARE MY FIRST (FANFICT) Part 2

Author : Naka Aya

Cast :

Kris as Him Self

You as Sae Ri

Luhan as Him Self

Tao as Him Self

Nana

Gambar

Setelah hari itu. Sae Ri benar-benar tidak mendapatkan satu temanpun. Entah kesalahan besar apa yang telah dilakukannya. Sae Ri bahkan belum pernah mengenal keempat kakak tingkatnya yang populer itu. Dia hanya disapa oleh sang princess bernama Nana, Sae Ri bahkan tidak tahu siapa Nana saat itu. Lantas apakah ini adil?

Sae Ri duduk dikursi paling belakang dikelas musik dasar. Tangannya menopang dagunya, termangu dan merasa bosan. Waktu dilewati dengan hanya kebosanan. Harusnya ini adalah kelas yang sangat disukainya, namun karena dia merasa terasing, Sae Ri menjadi bosan dan lumayan sedih. Sekalipun dia berteriak pada dirinya sendiri untuk tetap semangat, tapi kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang mau berteman dengannya menjadikan Sae Ri seperti kehilangan separuh semangatnya.

Bel istirahat berbunyi.

Sae Ri meninggalkan kelas cepat, tak ingin mendengar celotehan tak masuk akal dari teman sebayanya. Dia memutuskan pergi ke perpustakaan. Didalam perpustakaan Sae Ri menyusuri rak buku, mencari buku yang tidak dicarinya. Sae Ri hampir mencapai ujung dalam rak buku saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Spontan Sae Ri berbalik.

“Annyeong” suara itu lembut dan bersahabat.

“Nana eonni” Sae Ri tersenyum kaku. Melihat itu Nana memajukan bibirnya, sangat lucu.

“Wae? Kau terlihat… sedikit menyedihkan” kemudian Nana tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.

Sae Ri hanya tersenyum dan kembali meletakkan jarinya, menyusuri setiap buku.

“Kau mencari apa? Hm?” Nana masih membuntuti Sae Ri.

Sae Ri tetap diam, hanya hatinya saja yang menjawab “kau pikir apa? Gara-gara hari pertama itu kalian menyapaku. Tidak ada seorangpun yang mau berteman denganku. Menyedihkan bukan. Kenapa kau menyapaku saat itu? Kenapa aku?”

“Oh seperti itu, mian Sae Ri ~ah” ucap Nana kemudian dengan nada menyesal.

“eh? Maaf untuk apa?” Sae Ri tetap fokus pada buku-buku dihadapannya.

“Aku menyapamu karena kau lucu dan sangat polos. Kau seperti anak kucing. Hihi” Nana tertawa kecil.

Mendengar itu Sae Ri membalikkan badannya heran. “ke ke kenapa Nana eonni bisa…” Sae Ri tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Nana menarik tangannya. ‘menyeret’ nya keluar dari perpustakaan.

“Ssssttt… sini kita bicara diatas atap sekolah. Ok?” lagi, Nana memperlihatkan deretan giginya. Sae Ri hanya menurut karena kebingungan.

Sesampainya diatas atap, Sae Ri mengambil nafas dalam-dalam, karena selama dia ‘diseret’ keatas, Nana tidak memberikan istirahat sedikitpun bagi Sae Ri. Badan Nana begitu ringan saat berlari tadi.

“Mian, kau kecapean ya? Hihi. Sini duduk” Nana menunjuk tempat duduk disebelahnya.

Sae Ri menghampiri Nana, meski dengan banyak pertanyaan dikepalanya.

“Sae Ri ~ah, kau percaya dengan keajaiban?” tiba-tiba Nana mengajukan pertanyaan yang tidak begitu dipahami Sae Ri.

“Ok. Kau tak perlu menjawab, hanya cukup mendengarkan.”

“kenapa…”

“Ssssttttt…” Nana menempelkan telunjuknya dibibir Sae Ri yang langsung terdiam.

“Saat itu aku menghampirimu karena aku mendengar kebahagianmu tentang masuk ke sekolah ini. Impianmu, cita-citamu. Itu sangat menarik untukku, karena sudah lama aku tidak bertemu dengan orang sepertimu. Jujur dan lucu. Aku langsung tertarik padamu. Semakin lucu lagi saat kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu saat melihat ketiga pangeran Dream Art School. Hahaha. Aku jatuh cinta padamu!” Nana berteriak menegaskan kalimat terakhirnya.

Sontak Sae Ri kaget. “Mworago?!!”

“Yay!! Kau kaget? Aku juga. Hahaha”

“mworago?”

“tenanglah, bukan seperti yang kau pikirkan. Ini hanya seperti eonni dan dongsaeng”

Sae Ri mebuang nafas lega “hampir saja aku pikir aku akan kena masalah lagi” .

“Kau jangan hanya mengungkapkannya dalam hati saja. Katakanlah. Eo?. Tenang saja, aku tidak akan memberimu banyak masalah. Mungkin sedikit saja. hehe”

Sae Ri mengangguk. Dan sedetik kemudian dia menatap Nana dengan mata takjub.

“Eonni? Ka kau, kau barusan membaca isi hatiku?” Sae Ri tak percaya.

“uh oh. No honey. I just Hear that” dan senyum lebar itu mengembang kembali.

“Mwo?” kali ini Sae Ri tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

Pada waktu yang sama seseorang melompat memasuki atap bagian dalam, Kris. Seperti kebiasaannya, tidur diatap sekolah. Kris menghampiri mereka. Membuat Sae Ri double shock. “Apalagi sekarang? Kenapa namja yang menatapku dengan tatapan tidak bersahabat ini datang kemari?” lagi-lagi kalimat itu hanya tertahan dihatinya.

Nana yang memiliki kemampuan ‘mendengar’ hati seseorang itu tersenyum geli. “Tenang saja, Kris tidak akan menyakitimu. Aku jamin seratus persen” kemudian Nana beranjak.

“aku akan membiarkan kalian mengobrol” lanjutnya.

“Apa tidak apa-apa dia mengetahui rahasiamu?” Tanya Kris dingin dengan tatapan mata menusuk.

“Tidak. Ini bagus kok. Sudahlah Kris, lagipula aku tidak dapat ‘mendengar’ hatimu. Kau terlalu hati-hati untuk itu. Hhmmm sangat mengganggu. Membuatku frustasi. Aku mau bertemu Tao.” Kemudian Nana pergi dan melambaikan tangannya pada Sae Ri yang terpaku.

Sementara Sae Ri membalas lambaian tangan Nana (yang sebenarnya sudah menghilang dibalik pintu sejak satu menit lalu). Sae Ri mencoba tidak menanggapi kehadiran Kris. Namja dengan julukan ice prince itu menatapnya tajam, seolah ingin memakan Sae Ri.

“Kau. Sampai kapan kau akan melambaikan tangan?” Tetap sedingin es.

“oh? Mian.” Sae Ri menarik tangannya dan terdiam lagi, menunduk karena tidak mampu melawan tatapan Kris.

Angin berhembus lembut. Sudah lima menit tidak ada perbincangan diantara mereka. Dan Kris masih tetap dalam posisinya, menatap Sae Ri. Sepertinya mata Kris punya kekuatan lebih untuk tidak berkedip selama itu (mustahiil *skip).

Bel berbunyi. Waktu istirahat sudah berakhir.

Sae Ri memiliki alasan untuk pergi sekarang. Tanpa ragu dia melangkah maju, melewati Kris yang tetap belum mengganti posisi dimana dia berdiri. Namun, langkah Sae Ri ditahan oleh Kris yang menarik tangan Sae Ri dan menempatkannya tepat dipelukan Kris (omona!).

Sae Ri beku sebeku-bekunya es. Kris memeluknya erat sekali. Dan hanya berkata “Satu menit”. Saeri tidak dapat menghentikan detak jantungnya yang berlari melebihi kecepatan waktu perdetik. Sepertinya jantung Sae Ri akan meledak saat itu. Eottokae?

Satu menit. Kris melepaskan pelukannya dan Sae Ri berdiri seperti patung yang tak bernyawa. Triple Schock.

“Ka ka kau.. a a apa yang…” Sae Ri bahkan tak mampu meneruskan kalimatnya.

Kris memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana miliknya, punggungnya sedikit membungkuk agar mukanya dan Sae Ri sejajar, kemudian tangan yang satunya men-takbam kening Sae Ri. Kontan Sae Ri memegangi keningnya karena merasa sakit.

“oraenmaniya Sae Ri sii” senyum tipis menghiasi wajah tampan Kris, senyuman yang langka, senyuman itu mampu membuat semua yeoja jatuh pingsan. Tapi tidak bagi Sae Ri. Dia semakin bingung. Super Shock!!!!

Sae Ri pun limbung, terlalu banyak hal yang dia tidak mengerti disini. Apa ini? Apa aku sedang dipermainkan?…

To be continued to part 3

Happy reading?? Please leave some coment. Kamsa~ =D

YOU ARE MY FIRST (FANFICT) Part 1

Author : Naka Aya

Cast :

Kris as Him Self

You as Sae Ri

Luhan as Him Self

Tao as Him Self

Nana

Prince

Welcome to Dream Art School.

Kalimat itulah yang tertera pada gerbang depan sekolah seni paling terkenal di Seoul. Sae Ri menatap tulisan itu dengan mata penuh binar bahagia. Sudah lama dia menantikan moment ini, moment saat dia melangkah untuk mengejar impiannya menjadi seorang idola.

Sae Ri merupakan siswa baru tingkat pertama di Dream Art School. Belum ada satupun yang dia kenal di sekolah itu, karena diantara semua teman sekelasnya dari Busan, hanya Sae Ri yang diterima disekolah tersebut. Sebagai orang baru, tentu saja Sae Ri mengalami kegugupan.

Tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang sampai Sae Ri terhuyung.

“Ah Mianhae.” Ucap si penabrak. Ternyata dia seorang yeoja, dengan penampilan amat sangat feminin, terlihat dari aksesoris rambut, tas serta cat kuku berwarna pink. Dia juga terlihat sangat stylist.

“Ah, Hoksi, you are new student too, keurotji?” Tanya Yeoja itu dengan pelafalan bahasa inggris yang sedikit aneh.

Sae Ri mengangguk kecil, dia tidak tahu apakah harus memulai pembicaraan atau tidak, khawatirnya jika ternyata yeoja yang menabraknya itu adalah kakak seniornya.

“Nana imnida” yeoja bernama Nana itu mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Sae Ri menyambutnya kaku “Sae Ri imnida, bangapsumnida” kemudian membungkuk.

“Haha, kau sangat lucu. Tidak perlu seformal itu, kita kan satu angkatan.” Lanjut Nana.

“benarkah?” Sae Ri tak percaya, namun kemudian dia tersenyum.

Seorang namja menghampiri mereka berdua. Dan dengan santainya melingkarkan tangan di pundak Nana. Nana tidak tampak begitu kaget, berbeda dengan Sae Ri yang tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, terlebih bukan karena si Namja yang tiba-tiba memeluk pundak Nana, tapi karena namja didepannya itu sangat, sangat, sangat dan saaaaangaaattt tampan.

Melihat mata melotot Sae Ri, Nana tidak dapat menyembunyikan perasaan gelinya. Nana mengibaskan tangannya didepan muka Sae Ri yang masih mematung.

“Yah! Yah! Helloooo…” seru Nana.

Tak lama Sae Ri tersadar “Ah mianata” ujarnya seraya menunduk.

“Korban akan semakin berjatuhan” gumam Nana, yang tidak terdengar seperti gumaman karena suaranya cukup nyaring.

“Nana ssi, berhentilah berkata kau anak baru setiap tahunnya, kau sudah tua disini.” Namja itu angkat suara. Sae Ri yang mendengar itu mengangkat pandangannya dan menatap Nana bingung.

“Tao ssi, berhentilah bertindak sebagai senior kepadaku. Aigooo”

“Yah! Neo, Kamu murid baru disini?” Tao bertanya pada Sae Ri.

“eh? Ah, ye.”

“hum. Kau cukup lucu. Mau berkencan denganku?” Tao tersenyum jahil. Membuat Sae Ri kaget dan juga tidak nyaman dengan pertanyaannya.

“eh?” hanya itu yang keluar dari mulut Sae Ri.

Nana menyikut perut Tao yang kemudian mengaduh dan memegangi perutnya.

“Sae Ri? Itu namamu kan? Jangan perdulikan ucapan dia. Dia hanya seorang playboy kelas kucing. Tidak begitu professional, yaaaa walaupun banyak juga yang jadi korbannya. Terutama anak baru sepertimu.”

“Yah! Aku bukan playboy kelas kucing. I’m Pro.” Tao.

“kamu akan menemukan yang lebih Pro disini” Nana tersenyum.

“Apa maksudmu? Tentu saja yang pro itu aku. Jangan kau bilang kalau…” belum sempat Tao meneruskan ucapannya.

Tiba-tiba saja gerbang sekolah menjadi Ramai karena kedatangan seseorang, ah tidak, sepertinya dua orang. Tak hanya siswa baru, siswa lamapun ikut bergerombol didepan gerbang dengan teriakan-teriakan yang memekakan telinga.

“Ah aku belum selesai bicara. Berisik sekali” keluh Tao.

Terlihat seorang namja turun dari mobil mewahnya (disertai dengan kelopak bunga mawar yang bertebaran entah dari mana), namja itu memiliki perawakan cukup tinggi dengan muka cute dan senyuman yang mampu membuat semua orang pingsan ditempat. Dengan pesona yang dimilikinya, tidak hanya perempuan, bahkan namja lainpun akan terpesona dan menginginkan berteman dengan namja satu itu. Shining Prince, itulah julukannya.

Seorang lagi menggunakan motor sport merk ninja berwarna merah, mengehentikan motornya tepat diantara gerombolan para siswa. (Dengan gerakan slowmotion) namja itu membuka helmnya dan mengibaskan rambutnya yang berwarna terang, membuatnya seperti center visual yang tengah diterangi cahaya lampu paling terang didunia. Namja itu turun dari motornya, mendekati namja yang baru saja turun dari mobil, mereka bersalaman. Dan berjalanan bersamaan melewati puluhan siswa yang seperti tersihir dengan kehadiran mereka.

Shining Prince melangkah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, sedangkan namja yang satu lagi berjalan dengan gaya elegan bak es, sesuai julukannya ice prince.

“Itu baru namanya playboy kelas dunia, Pro diatas pro” ujar Nana bangga.

Tao berdecak “Kenapa kehadiran mereka begitu didramatisir, sedangkan aku hanya melangkah masuk cerita begitu saja??” (Tao menatap Author. Wwooppss *skip skip*).

Sae Ri menatap tak percaya, seperti biasa, dia hanya terdiam kaku. Dalam hatinya, Sae Ri sebenarnya ingin seperti yang lainnya, mengambil gambar namja-namja tampan yang baru saja hadir dalam penglihatannya secara nyata, dan juga berteriak, walaupun mungkin terkesan kampungan, tapi itu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan gadis-gadis seusianya.

“Yo. Morning” Shining Prince menyapa Nana dan Tao, ketiganya bersalaman.

“Wa? Hoksi.. new student?” Shining prince menyadari kehadiran  Sae Ri.

“ah ye. Annyeo…” sapaan Sae Ri terputus karena tiba-tiba ice prince mengeluh.

“Bisakah kita masuk saja. Disini terlalu ramai. Apa kalian tidak menyadari keadaan ini?”

“ah benar, ayo kita masuk.” Ujar sang Shining prince, Luhan, tak lepas dari senyuman.

Ternyata disekeliling mereka para siswa belum berhenti mengagumi keberadaan tiga pangeran dan satu putri yang melegenda disekolah tersebut. Tentu saja Sae Ri tidak lepas dari pandangan mereka, namun yang diterima Sae Ri adalah tatapan intimidasi. Pasalnya, siapa Sae Ri? Penampilannya biasa saja, pakaiannya biasa saja, tidak stylist, terlihat masih kampungan dan benar-benar biasa.

“Ah Sae Ri. Kita masuk duluan ya. See you.” Nana menepuk kecil pundak Sae Ri. Nana berjalan berdampingan dengan Tao yang masih melingkarkan tangan dipundak Nana, lagipula Nana tidak berniat menepis tangan Tao.

“Selamat datang di Dream Art School” Luhan tersenyum sangat manis dan mengedipkan sebelah matanya. Dengan tenang Luhan berjalan masuk.

Terakhir, ice Prince, Kris. Menatap Sae Ri cukup tajam (sebenarnya, untuk seseorang yang baru dikenal, tatapan itu failed, alias gak boleh. Gak sopan namanya). Sae Ri terkejut mendapati dirinya ditatap begitu tajam oleh orang asing dihadapannya. Dan tanpa kata-kata, setelah tatapannya Kris yang tanpa sebab itu, Kris melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolah, mengikuti teman-temannya.

Sae Ri kebingungan. Apa ada yang salah dengan dirinya? Sae Ri sedikit takut dengan tatapan mata Kris yang tidak bersahabat itu. Sae Ri merasa dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, dan Sae Ri merasa bahwa dia baru melihat namja bernama Kris itu. Apa mungkin Kris menyukainya? Mungkinkah? Ah, tapi bukan seperti itu tatapan namja yang menyukai seorang yeoja. Sae Ri tersiksa dengan pikirannya sendiri.

Para Siswa berlarian mengejar idolanya masuk kedalam gedung sekolah. Sebagian besar dari mereka sengaja menabrak-nabrakan dirinya pada Sae Ri sambil menggumamkan kata-kata seperti ‘siapa dia?’ ‘kampungan’ ‘sihir apa yang dia pakai’ ‘tidak tahu diri’ ‘menyebalkan’ dan kata-kata kasar lainnya. Sae Ri benar-benar terintimidasi dihari pertamanya sekolah di sekolah paling diimpikannya. Sekolah yang diharapkannya menjadi syurga bagi impiannya, bertemu dengan teman-teman baru, makan siang bersama, bergosip tentang namja dan hal-hal menyenangkan lainnya. Dalam sekejap bayangan-bayangan itu menghilang, berubah jadi neraka yang ingin ditinggalkannya.

“Waeeeeeeeeeeeeeeee???” teriak batinnya tragis.

Sementara seseorang yang misterius tanpa disadari Sae Ri tengah memperhatikanya dari balik jendela kelas dengan senyum misterius.

To be continued to part 2…

Happy reading? Please leave some coment ^^ gomawo

Next Newer Entries

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai