YOU ARE MY FIRST (FANFICT) Part 2

Author : Naka Aya

Cast :

Kris as Him Self

You as Sae Ri

Luhan as Him Self

Tao as Him Self

Nana

Gambar

Setelah hari itu. Sae Ri benar-benar tidak mendapatkan satu temanpun. Entah kesalahan besar apa yang telah dilakukannya. Sae Ri bahkan belum pernah mengenal keempat kakak tingkatnya yang populer itu. Dia hanya disapa oleh sang princess bernama Nana, Sae Ri bahkan tidak tahu siapa Nana saat itu. Lantas apakah ini adil?

Sae Ri duduk dikursi paling belakang dikelas musik dasar. Tangannya menopang dagunya, termangu dan merasa bosan. Waktu dilewati dengan hanya kebosanan. Harusnya ini adalah kelas yang sangat disukainya, namun karena dia merasa terasing, Sae Ri menjadi bosan dan lumayan sedih. Sekalipun dia berteriak pada dirinya sendiri untuk tetap semangat, tapi kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang mau berteman dengannya menjadikan Sae Ri seperti kehilangan separuh semangatnya.

Bel istirahat berbunyi.

Sae Ri meninggalkan kelas cepat, tak ingin mendengar celotehan tak masuk akal dari teman sebayanya. Dia memutuskan pergi ke perpustakaan. Didalam perpustakaan Sae Ri menyusuri rak buku, mencari buku yang tidak dicarinya. Sae Ri hampir mencapai ujung dalam rak buku saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Spontan Sae Ri berbalik.

“Annyeong” suara itu lembut dan bersahabat.

“Nana eonni” Sae Ri tersenyum kaku. Melihat itu Nana memajukan bibirnya, sangat lucu.

“Wae? Kau terlihat… sedikit menyedihkan” kemudian Nana tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.

Sae Ri hanya tersenyum dan kembali meletakkan jarinya, menyusuri setiap buku.

“Kau mencari apa? Hm?” Nana masih membuntuti Sae Ri.

Sae Ri tetap diam, hanya hatinya saja yang menjawab “kau pikir apa? Gara-gara hari pertama itu kalian menyapaku. Tidak ada seorangpun yang mau berteman denganku. Menyedihkan bukan. Kenapa kau menyapaku saat itu? Kenapa aku?”

“Oh seperti itu, mian Sae Ri ~ah” ucap Nana kemudian dengan nada menyesal.

“eh? Maaf untuk apa?” Sae Ri tetap fokus pada buku-buku dihadapannya.

“Aku menyapamu karena kau lucu dan sangat polos. Kau seperti anak kucing. Hihi” Nana tertawa kecil.

Mendengar itu Sae Ri membalikkan badannya heran. “ke ke kenapa Nana eonni bisa…” Sae Ri tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Nana menarik tangannya. ‘menyeret’ nya keluar dari perpustakaan.

“Ssssttt… sini kita bicara diatas atap sekolah. Ok?” lagi, Nana memperlihatkan deretan giginya. Sae Ri hanya menurut karena kebingungan.

Sesampainya diatas atap, Sae Ri mengambil nafas dalam-dalam, karena selama dia ‘diseret’ keatas, Nana tidak memberikan istirahat sedikitpun bagi Sae Ri. Badan Nana begitu ringan saat berlari tadi.

“Mian, kau kecapean ya? Hihi. Sini duduk” Nana menunjuk tempat duduk disebelahnya.

Sae Ri menghampiri Nana, meski dengan banyak pertanyaan dikepalanya.

“Sae Ri ~ah, kau percaya dengan keajaiban?” tiba-tiba Nana mengajukan pertanyaan yang tidak begitu dipahami Sae Ri.

“Ok. Kau tak perlu menjawab, hanya cukup mendengarkan.”

“kenapa…”

“Ssssttttt…” Nana menempelkan telunjuknya dibibir Sae Ri yang langsung terdiam.

“Saat itu aku menghampirimu karena aku mendengar kebahagianmu tentang masuk ke sekolah ini. Impianmu, cita-citamu. Itu sangat menarik untukku, karena sudah lama aku tidak bertemu dengan orang sepertimu. Jujur dan lucu. Aku langsung tertarik padamu. Semakin lucu lagi saat kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu saat melihat ketiga pangeran Dream Art School. Hahaha. Aku jatuh cinta padamu!” Nana berteriak menegaskan kalimat terakhirnya.

Sontak Sae Ri kaget. “Mworago?!!”

“Yay!! Kau kaget? Aku juga. Hahaha”

“mworago?”

“tenanglah, bukan seperti yang kau pikirkan. Ini hanya seperti eonni dan dongsaeng”

Sae Ri mebuang nafas lega “hampir saja aku pikir aku akan kena masalah lagi” .

“Kau jangan hanya mengungkapkannya dalam hati saja. Katakanlah. Eo?. Tenang saja, aku tidak akan memberimu banyak masalah. Mungkin sedikit saja. hehe”

Sae Ri mengangguk. Dan sedetik kemudian dia menatap Nana dengan mata takjub.

“Eonni? Ka kau, kau barusan membaca isi hatiku?” Sae Ri tak percaya.

“uh oh. No honey. I just Hear that” dan senyum lebar itu mengembang kembali.

“Mwo?” kali ini Sae Ri tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

Pada waktu yang sama seseorang melompat memasuki atap bagian dalam, Kris. Seperti kebiasaannya, tidur diatap sekolah. Kris menghampiri mereka. Membuat Sae Ri double shock. “Apalagi sekarang? Kenapa namja yang menatapku dengan tatapan tidak bersahabat ini datang kemari?” lagi-lagi kalimat itu hanya tertahan dihatinya.

Nana yang memiliki kemampuan ‘mendengar’ hati seseorang itu tersenyum geli. “Tenang saja, Kris tidak akan menyakitimu. Aku jamin seratus persen” kemudian Nana beranjak.

“aku akan membiarkan kalian mengobrol” lanjutnya.

“Apa tidak apa-apa dia mengetahui rahasiamu?” Tanya Kris dingin dengan tatapan mata menusuk.

“Tidak. Ini bagus kok. Sudahlah Kris, lagipula aku tidak dapat ‘mendengar’ hatimu. Kau terlalu hati-hati untuk itu. Hhmmm sangat mengganggu. Membuatku frustasi. Aku mau bertemu Tao.” Kemudian Nana pergi dan melambaikan tangannya pada Sae Ri yang terpaku.

Sementara Sae Ri membalas lambaian tangan Nana (yang sebenarnya sudah menghilang dibalik pintu sejak satu menit lalu). Sae Ri mencoba tidak menanggapi kehadiran Kris. Namja dengan julukan ice prince itu menatapnya tajam, seolah ingin memakan Sae Ri.

“Kau. Sampai kapan kau akan melambaikan tangan?” Tetap sedingin es.

“oh? Mian.” Sae Ri menarik tangannya dan terdiam lagi, menunduk karena tidak mampu melawan tatapan Kris.

Angin berhembus lembut. Sudah lima menit tidak ada perbincangan diantara mereka. Dan Kris masih tetap dalam posisinya, menatap Sae Ri. Sepertinya mata Kris punya kekuatan lebih untuk tidak berkedip selama itu (mustahiil *skip).

Bel berbunyi. Waktu istirahat sudah berakhir.

Sae Ri memiliki alasan untuk pergi sekarang. Tanpa ragu dia melangkah maju, melewati Kris yang tetap belum mengganti posisi dimana dia berdiri. Namun, langkah Sae Ri ditahan oleh Kris yang menarik tangan Sae Ri dan menempatkannya tepat dipelukan Kris (omona!).

Sae Ri beku sebeku-bekunya es. Kris memeluknya erat sekali. Dan hanya berkata “Satu menit”. Saeri tidak dapat menghentikan detak jantungnya yang berlari melebihi kecepatan waktu perdetik. Sepertinya jantung Sae Ri akan meledak saat itu. Eottokae?

Satu menit. Kris melepaskan pelukannya dan Sae Ri berdiri seperti patung yang tak bernyawa. Triple Schock.

“Ka ka kau.. a a apa yang…” Sae Ri bahkan tak mampu meneruskan kalimatnya.

Kris memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana miliknya, punggungnya sedikit membungkuk agar mukanya dan Sae Ri sejajar, kemudian tangan yang satunya men-takbam kening Sae Ri. Kontan Sae Ri memegangi keningnya karena merasa sakit.

“oraenmaniya Sae Ri sii” senyum tipis menghiasi wajah tampan Kris, senyuman yang langka, senyuman itu mampu membuat semua yeoja jatuh pingsan. Tapi tidak bagi Sae Ri. Dia semakin bingung. Super Shock!!!!

Sae Ri pun limbung, terlalu banyak hal yang dia tidak mengerti disini. Apa ini? Apa aku sedang dipermainkan?…

To be continued to part 3

Happy reading?? Please leave some coment. Kamsa~ =D

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai